Wajah Indonesia dalam Film Eksil: Sebuah Review

Khusus tulisan ini, Tulisan Puan memuat dalam Bahasa Indonesia. Hal ini dikarenakan masih minimnya literasi mengenai kejadian tahun 1965 di kalangan masyarakat Indonesia sehingga informasi alternatif untuk membuka tabir sejarah diperlukan dalam Bahasa Indonesia, agar mudah dipahami dan diterima oleh masyarakat.

Selain itu, tulisan ini tidak sedang memperjuangkan feminis luar negeri untuk memahami, melainkan menjadi ruang diskusi untuk masyarakat Indonesia merefleksikan bagaimana kejadian sesungguhnya pada tahun 1965, yang sejarahnya telah dirajut sendiri oleh penguasa kala itu.

Sekilas Mengenai Film Eksil

Saya mengenal Film Eksil pertama kali ketika Lola Amaria diwawancarai oleh Kick Andy di media Metro TV pada tahun 2023 yang saya lihat secara live streaming dari Melbourne kala itu. Wawancara dan cuplikan sekilas mengenai bagaimana film ini akan tayang sungguh membuat saya terharu. Film ini menunjukkan keberanian yang besar untuk membuka tabir sejarah dengan cara yang sangat halus.

Akhirnya, kesempatan menonton film ini secara utuh terjadi pada bulan February 2024 ini.

Film ini menceritakan pengalaman mahasiswa yang mendapatkan beasiswa di luar negeri pada era Soekarno di tahun 1960-an, yang kemudian terpaksa tidak bisa pulang karena dianggap terafiliasi dengan Partai Komunis Indonesia (PKI). PKI kala itu telah menjadi salah satu partai terbesar di Indonesia dengan jumlah anggota hingga 11 juta jiwa (Hindley, 1962). PKI pula telah menjadi salah satu dari empat partai komunis terbesar di dunia, berkawan dengan Uni Soviet dan Tiongkok pada masa itu, sebelum tumbang pada era Soeharto pada tahun 1965. Ditengarai, pemerintah Amerika melalui CIA berada di balik kekuasaan Soeharto untuk menggulingkan ideologi komunis di Indonesia (Barton, 2010).

Kata eksil (dalam bahasa Inggris, Exile) berarti sebagai yang terpinggirkan (KBBI, 2016). Kata ini sering digunakan untuk menggambarkan situasi seseorang yang dipaksa meninggalkan kampung halaman atau rumah yang di tempati, dalam hal ini Tanah Air Indonesia. Seperti judulnya, film ini menyajikan kisah perjuangan beberapa eksil di luar negeri yang tidak bisa pulang ke Indonesia, menjadi stateless (tidak memiliki kewarganegaraan) selama kurang lebih 32-35 tahun, dan terpaksa memilih mencintai Indonesia dari jauh. Mahasiswa eksil dalam film ini rata – rata adalah mahasiswa yang belajar di Uni Soviet dan China (yang dianggap memiliki paham komunisme).

Akibat pemusnahan massal oleh Soeharto kepada para simpatisan, atau yang dianggap simpatisan PKI dan keluarganya, mahasiswa ini tidak dapat kembali dan menjalani hidup dalam interograsi oleh intelegen negara kala itu. Seolah tak cukup mengalami penderitaan karena situasi dan ketidakmampuan kembali ke rumah, para eksil ini juga kehilangan kontak dengan keluarga mereka di Indonesia.

Ilmu pengetahuan dan kepandaian merekapun harus digadaikan untuk sekedar bertahan hidup di negeri orang, karena ketidakadaan dokumen negara pendukung mereka. Film berdurasi 1 jam 58 menit ini mengajak penonton menyelami nasib pada eksil yang usianya telah renta (sebagian telah meninggal ketika film ini ditayangkan). Sebagian dari para eksil ini telah berhasil pulang dan bertemu dengan keluarga / kerabat mereka setelah lengsernya Soeharto pada tahun 1998. Tapi, doktrin mengenai jahatnya PKI di Indonesia telah mengakar di Indonesia. Stigma dan diskriminasipun didapatkan oleh mereka yang berhasil tiba di Indonesia, dan membuat mereka memilih meninggalkan Indonesia selamanya.

Indonesia menjadi asing bagi para eksil yang kembali setelah 1998. Warga Indonesia menjadi sangat ketakutan dengan istilah komunisme, dan ini menjadi sebuah trauma yang mendalam bagi para eksil dan anggota keluarga yang tersisa. Ada cerita dimana salah satu eksil harus menjalani interograsi dan akhirnya dideportasi oleh pemerintah Indonesia. Ada pula cerita dimana salah satu eksil yang lain diusir oleh keluarganya karena ketakutan mereka jika akan terjadi hal – hal rusuh jika warga mengetahui bekas komunis ada di lingkungan mereka (lagi).

Tidak adanya eksil perempuan sebagai narasumber dalam film ini

Saya tidak akan melakukan review film ini dari sisi teknis bagaimana dokumenter ini digarap dengan riset yang mendalam dan bagaimana menyajikannya kepada penonton yang notabene berusia muda dan tidak hidup di tahun 1965 ataupun 1998. Saya memilih melakukan review dengan merefleksikan pada hal yang tidak terjawab di film ini.

Setelah menonton film ini, justru memberikan benang merah terhadap hal – hal yang saya ikuti dan buku yang saya baca selama ini. Tentang mengapa karya seni Taring Padi di documenta 15 di Kassel pada tahun 2022 menjadi kisruh dan harus diturunkan (Purwaningsih, 2022), tentang cerita Gus Dur muda yang menyelamatkan mahasiswa di Timur Tengah pada tahun 1965 melalui data non komunis (meskipun para mahasiswa di Timur Tengah pun belajar Marxisme kala itu) (Barton, 2010), dan sejarah pejuang Tan Malaka ataupun DN Aidit yang bukunya banyak di perpustakaan indi kala ini.

Tapi, mengapa kita begitu takut dengan istilah komunis? Hingga saat ini, saya masih belum menemukan jawaban pastinya, selain menemukan betapa hebatnya strategi Soeharto untuk melakukan doktrin kebencian kepada komunis hingga ke akar rumput. Film inipun tidak menjawab pertanyaan sederhana ini.

Pertanyaan lain muncul lagi setelah saya berusaha mengingat kembali film ini: Mengapa tidak ada mahasiswi yang menjadi eksil dan terlibat dalam film ini? Apakah para eksil perempuan ini telah lebih dulu meninggal? Seberapa banyak mahasiswi yang dikirim ke luar negeri oleh Soekarno mengingat masih rendahnya kesempatan untuk pendidikan bagi perempuan kala itu meskipun Gerwani (organisasi perempuan) telah menjadi organisasi yang kuat dan memperjuangkan pendidikan yang setara untuk perempuan Indonesia?

Kisah mengenai perempuan hanya diceritakan dalam perspektif laki – laki. Tentang bagaimana diaspora perempuan pun harus berjaga – jaga membawa semprotan merica karena ketakutan jika terjadi kerusuhan di negara tempat mereka belajar akibat gejolak politik di Indonesia kala itu. Juga cerita mengenai istri salah satu eksil dan bayinya di Sumatera yang dijebloskan ke penjara karena merupakan keluarga dari salah satu simpatisan PKI di luar negeri. Tapi bagaimana pandangan eksil perempuan dan pengalaman perempuan yang terasing masih hilang di film ini.

Era Reformasi dan kebebasan berpendapat

Saya terlahir tidak di era PKI. Saya lahir di era yang sudah tidak diperbolehkan mempertanyakan apa itu PKI dan hanya mengenal PKI pada sejarah kudeta Gerakan 30 September 1965 yang filmnya tiap tahun muncul dari saya bayi hingga 1998. Saya justru mendapatkan informasi mengenai PKI karena ketertarikan saya pada buku bacaan sejarah sejak sekolah. Dengan bantuan teknologi internet, informasi mengenai PKI dengan mudah saya dapatkan. Tapi, bukan berarti ini mudah untuk mendiskusikan di luar ruang diskusi. Ibu saya, contohnya, masih sering menyuruh saya diam ketika saya menyebut istilah komunis.

Tahun 2015 lalu di Den Haag, Indonesia telah mengakui adanya pelanggaran HAM berat pada kasus 1965, dan sedikit usaha telah dilakukan pada tahun 2023 untuk melakukan pemulihan kepada korban. Tapi, usaha ini masih jauh dari layak. Proses penyembuhan korban dan keluarga tidak dibahas oleh pemerintah Indonesia. Proses pemulihan diskusi dan pembangunan kesadaran mengenai komunisme tidak dibahas. Bahkan, pelarangan mengenai idelogi Komunisme, Marxisme dan Leninisme masih dilegalisasi dalam undang – undang dan memperuncing stigma dan kesalahan pikir masyarakat terhadap ideologi ini.

Beberapa hari yang lalu contohnya, di Samarinda pemutaran Eksil di larang oleh pemerintah dengan dalil tidak ada ijin kepolisian (BBC, 2024). Apakah media censorship masih ada di era Reformasi? Bukankah seharusnya, dengan makin banyaknya penonton muda di Indonesia (yang belum familiar dengan peristiwa 1965) sangat penting untuk menciptakan media yang accessible agar sejarah yang sesungguhnya tidak hilang?

Atau, seperti kata Lola Amaria dalam salah satu wawancaranya: sejarah itu milik pemenang. Mungkin, selamanya komunisme akan ditakuti, sebab dunia telah menang melawannya puluhan tahun lalu.

 

Reference:

Hindley, D. (1962). President Sukarno and the Communists: The Politics of Domestication. American Political Science Review, 56(4), 915–926. https://doi.org/10.2307/1952793

Barton, Greg ; Lie Hua (penerjemah). (2010). Biografi Gus Dur : The Authorized Biography Of Abdurrahman Wahid / Greg Barton.

KBBI VI Daring. (2016) Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa.

Purwaningsih, Ayu. (2022) DW. Gambar Taring Padi diturunkan karena muatan Anti Semitisme.

https://www.bbc.com/indonesia/articles/ce9557v5zvno

 

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top